Saturday, June 13, 2009

Siapa yang Tahu Masa Depan?

Kemarin abis nonton film "KNOWING".
Intinya kita akan lebih bahagia bila tidak mengetahui masa depan.

Saya sedang di SMK tempat ibu saya mengajar,sudah dari tadi pagi dan sudah saya ulangi beberapa hari ini.

Ibu saya sedang mengurus sertifikasinya.
Dan saya?
Disuruh bantu bantu mencari semua berkasnya (karena tidak ada 1 guru atau staf pun yang mau membantu).
Kesimpulan yang saya ambil adalah : manusia terkadang tidak senang jika melihat manusia lain lebih kenyang dari mereka.

Just wait,menunggu kepala sekolah yang sok sibuk dan rival mama sebelum dia menjabat kepala sekolah sekarang.
Mama saya tak pernah menginginkan jabatan itu.

Dan kira kira apa yang saya lakukan jika hanya menunggu?
Bisa saja saya pulang,tapi pikir saya,saya lebih baik di sini.

Yang saya lakukan cuma duduk duduk di mushola sekolah ini,membaca buku buku yang saya bawa dari rumah,mendengarkan mp3,dan jika baterainya habis,saya cuma tidur saja di sini.

Kira kira pukul 10:30am tadi,saya bosan dan berjalan ke luar sekolah ini,berniat beli minum dan cemilan di toko dekan sini.

Saya menyeberang setelah Panther melintar depan saya.
Dan belum sampai masuk ke toko tersebut,Panther menabrak sepeda motor yang baru belok dari tikungan dekat situ.
Pengendaranya 2siswi sekolah ini.

Darah.
Darah.
Darah keluar dari kepala cewek itu.
Lalu cepat dan segera dibawa Panther ke rumah sakit.

Dan saya memang tidak minum atau haus setelah itu.

Lalu kepala sekolah pergi lagi dan saya kembali menunggu di mushola ini.

Salam,
~BikDei~

Tuesday, June 9, 2009

Moot Court Civil Law

Hemm......

Kemarin yang notabene gue sudah berada dalam minggu tenang,harus datang ke kampus buat dateng ke Moot Court Civil Law yang jadi tugas pengganti buat mata kuliah Hukum acara Perdata.

Apa itu Moot Court???

Moot Court adalah peradilan semu atau gampangnya sidang sidangan.hehe.

Jadi hari senin kemarin, moot court dijadwalkan dimulai pukul 8 pagi.Dan gue yang baru berangkat dari rumah pukul 07:56 am dan gak tau pake tehnik apa gue bisa sampai di Gedung 3 FH UNS yang sudah disulap jadi ruang sidang dalam waktu 18 meniat ajah.hoho.

Dan karena gue pikir, gue sudah sangat terlambat gara gara gue nyari kaca mata yang entah dimana gue meletakannya dan gara gara si "anak kecil" yang nantangin gue dini hari via sms yang bikin gue emosi dan gak bisa langsung tidur karena gue harus meredam emosi gue dulu.

Udah panic at the disco, gue masuk ke ruang sidang yang untung banget belum dimulai.

Yup....
Ruang sidang sudah hampir penuh atau memang sudah benar benar penuh.

Gue yang bermata minus 2 dan tidak pake kaca mata cuma bisa menajamkan pandangan mata gue berusaha mencari teman teman gue ada dimana.

Untungnya teman teman gue selalu memanggil keras dan selalu melambaikan tangan karena memang meraka sudah hafal kekurangan gue.

Dan yang melambai lambai dibarisan depan, ada yang melambai lambai di barisan belakang.Gue masih rada bingung,ngos ngosan,ngantuk pula dan GUBRAK....................

GUBRAK..............

Gue jatuh dengn posisi manis tertelungkup gara gara gue gak liat ada undakan tangga yang turun di depan gue dan gue pun jatuh di hadapan ruang sidang yang penuh...
Diketawaain....
Pasti.....

Gue langsung menuju tempat temen temen gue yang ada di depan.Tengsin gue kalu harus jalan ke belakang nyamperin Laras.

Kaki gue.....

Terkilir sakit sekali....

Sakit.....

Tapi ada yang lebih sakit dari semua itu.

Yaitu gue malu......

Malu sangat.....

Sangat malu....

Bisa bisanya gue  di depan semua orang itu...

Pengen nangis...

Hikz1000000000000000000000000000000000000000000000000000000000x

MALU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Ya mungkin gue orang paling sial dan ceroboh hari itu...

Udah gak bawa kaca mata, gak bawa bolpen, gag bawa materi Hukum Acara Perdata, gak bawa lembar laporan sidang.

Dan hari ini tadi gue ketemu sama si Dadul.

Gue tanya reka ulangnya.

"ih,,,iya cin,,,kemaren itu km udah mencolok bajunya,mencolok telatnya,,rambutmu acak acakan,,pas semua orang lagi perhatiin km,,,eh,,,km nya malah "kejlungup".jadi kayak grogi ndiri dan jatuh di tengah panggung".

Oh.....

Terima kasih dul......

"tapi kejlungup pun km masi cantik kok cin"

Huhuhuhu......

Hiburan atau apa itu????

Huhuhuhu.....


Dan moot court nyakemarin menyelesaikan perkara apa ya namanya???
Tindakan elawan hukum kali ya tepatnya.

Jadi, ada wanita bernama Vanessa Isni Rahayu (selaku Penggugat) dan Ir.Prabowo (selaku pihak Tergugat).

Jadi isi gugatanynya karena Penggugat (P) yang mengaku telah melahirkan anak dati Tergugat (T) yang bernama Viona Kadar Usman.
P berdalil bahwa telah melakukan hubungan intim dengan T hinnga melahirkan seorang anak.P pernah dijanjikan untuk dinikahi oleh T.
Dalam gugatannya P menuntuk pengakuan T terhadap Viona dan menuntuk nafkah dan kasih sayang berupa rumah seharga 500 juta, dan biay pendidikan dari Viona yang msing masing SD = 180jt,SMP=126jt,SMA=180jt,Kuliah=504jt.

Pertama kali gue denger isi posita tersebut yang menurut gue rada susah juga buat dikabulkan sama Majelis Hakim.

Dan, pelajaran buat cewek cewek,,,sewaktu elo diajak Making Love (ML) sama pacar atau lelaki manapun dan dijanjikan akandinikahi.JANGAN PERNAH PERCAYA.

Karena cewek sebagai pihak yang dirugikan akan mengalami "kesulitan" ketika akan menjaring si lelaki "buaya" tersebut.

Lha mau dijatuhi tuduhan apa??
Pidana....
Pencurian????emang ada pencurian kegadisan seorang gadis?
Pemerkosaan???orang suka sama suka??
Penggelapan??gak ah...
Penipuan???karena sudah melakukan tindakan bujuk rayu hingga sang gadis mau melepas kegadisannya??

Perdata......
Zina????
Yang dimaksud Zina dalam KUH Perdata adalah melakukan hubungan suami istri bukan dengan suami/istrinya.
Dengan kata lain kita bisa disebut zina ketika kita ML dengan orang lain yang bukan sumi/istri kita.
Tidak ada aturan zina dengan pacar atau yang lain.

Dan dalam Hukum Islam (kalu mau mengadili pake Hukum Islam).harus ada 4 orang saksi yang mendengar,melihat dengan langsung zina tersebut.

Bisa dibayangkan betapa susahnya seorang gadis apabila akan menjerat lelaki buaya untuk bertanggung jawab atas janin yang dikandungnya atau aank yang telah dilahirkannya.

Tes DNA????
Iya emang bisa....
Tapi bukannya kalau lelaki tetap tidak mau melakukan tes DNA dan tetap tidak mau menagakui ank itu + ya anak itu tidak mempunya nama bapak dalam akta kelahirannya yang akan sudah sekali buat urusan ke depannya...

Be carefull girls....

Salam,
~BikDei~

Saturday, June 6, 2009

Super Girl

It’s not suppose to feel
it does suppose to be like this
I’m not what I used to be

soon that I can’t breath
I feel that I can’t be my self
strong when I’m alone

I’d try to get you out of my mind
and many times I try to step on the ground
but shades of you, taste of you, smell of you
spinning in my head…
goin' crazy just because of you

# take me out of here… 2x
I'm not my self, not I used to be
yes, I’m strong. I used to be a supergirl
well… I just miss being me

so long, I’ve blame my self dreamin but you
I don’t want to stop, and I hate to be alone
just tell me, where you are

I’m looking for you at many places
never bored askin people ’bout where you are
hey don’t you dare treat me like
you don’t know me

now you’re out of my world, don’t know
where to find you

back to #

ooo… that strong little girl
ooo… I don’t wanna be alone

you control me, you control me, ohh..
you control me ….
the way you are makes me don’t wanna go
won’t be alone anymore
you control me…

By: d'cinnamons


Lagu ini gue tujukan buat gue sendiri

Salam,
~BikDei~

Boleh Gue Bilang Manohara LEBAY??

Manohara..
Cinderella yang terlepas dari cengkraman Pangeran dan terlihat "like a hero"

Manohara...
Bosend gak kalian cuma menyaksikannya terus terusan di televisi?
Dari acara gosip sampai dengan acara berita.

Katanya mau fisum?
Kapan?

Kalo pendapat gue,silahkan lah kalau mau cerai mengurus di pengadilan,kalau mau ngurus KDRT di kepolisian,kalau mau jadi artis ya silahkan aja,bukannya sudah banyak yang menawarinya (katanya).

Jangan terus terusan berkoar koar di media massa.
Bolehlah tawaran interview sini situ,tapi janganlah diterima semua.

Opini publik yang buruk tentang Malaysia jangan semakin dibumbui.

Kok gue lihatnya masalah rumah tangga ini jadi masalah negara.

Negara bolehlah memberi bantuan sesuai prosedur.

Kalau gue lihat banyak istilah Ganyang Malaysia.
Mau apa sich sebenarnya?
Indo-Malay sudah cukup tegang tanpa kecampuran sebuah masalah rumah tangga.

Pikirin dampaknya buat Indonesia juga donk.

Gue ketawa melihat kata kata "save manohara" dan segala caci maki.
Okey,mungkin manohara sudah dilang Human Rights nya.
Tapi pantaskah dua negara berperang hanya demi seorang Manohara?

Masih banyak istri istri yang menerima KDRT di negeri ini (yang belum jadi istri juga banyak).

Bukannya itu sudah jadi resiko ketika seorang wanita mau menikah dengan seorang lelaki "sakit".

Btw,kalau mau cerai emangnya mau dimana?
Dia masih terhitung single di Indonesia,Malaysia,Perancis,atau Amerika.
Mau pakai hukum yang mana coba.

Silahkan urus itu dulu saja.
Semoga Manohara lebi bahagia saja,bukankah itu yang dicari semua orang?

Salam,
~BikDei~

Wednesday, June 3, 2009

Email Prita Mulyani

From: prita mulyasari [mailto:prita. mulyasari@ yahoo.com]
Sent: Friday, August 15, 2008 3:51 PM
To:
Subject: Penipuan OMNI Iternational Hospital Alam Sutera Tangerang

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya, terutama
anak-anak, lansia dan bayi.
Bila anda berobat, berhati-hatilah dengan kemewahan RS dan title International
karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba
pasien, penjualan obat dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS International seperti ini tapi saya mengalami
kejadian ini di RS Omni International.

Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB, saya dengan kondisi panas tinggi
dan pusing kepala, datang ke RS. OMNI Intl dengan percaya bahwa RS tersebut
berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan
manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39
derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah
thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000, saya
diinformasikan dan ditangani oleh dr. Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib
rawat inap. Dr. Indah melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya
yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000. Dr.
Indah menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan tapi saya
meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu
referensi dr. Indah adalah dr. Henky. Dr. Henky memeriksa kondisi saya dan
saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam
berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau ijin
pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi,
dr.Henky visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam
bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?), saya kaget tapi
dr. Henky terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan
berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa ijin pasien atau
keluarga pasien. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap
masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat
kuatir karena dirumah saya memiliki 2 anak yang masih batita jadi saya lebih
memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan
saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik
tidak ada keterangan apapun dari suster perawat, dan setiap saya meminta
keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, lebih terkesan suster
hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu box
lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak, saya minta dihentikan infus dan suntikan dan
minta ketemu dengan dr. Henky namun dokter tidak datang sampai saya dipindahkan
ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan
datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa, setelah dicek
dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr. Henky saja.

Esoknya dr. Henky datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk
memberikan obat berupa suntikan lagi, saya tanyakan ke dokter tersebut saya
sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan
berarti bukan kena demam berdarah tapi dr. Henky tetap menjelaskan bahwa demam
berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan
kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak
napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya
berkata menunggu dr. Henky saja. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus
padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya.
Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan
suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr. Henky untuk ketemu dengan kami namun
janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak
saya menuntut penjelasan dr. Henky mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab
awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam
riwayat hidup saya belum pernah terjadi.
Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri saya.

Dr, Henky tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan, dokter tersebut malah
mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan
menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya
dan meminta dr. Henky bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang
pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. Dr. Henky menyalahkan
bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai
membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat namun saya tetap tidak mau
dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi saya membutuhkan data
medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis
yang fiktif.

Dalam catatan medis, diberikan keterangan bahwa BAB saya lancar padahal itu
kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow upnya
samasekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang
181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan
bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000,
kepala lab saat itu adalah dr. Mimi dan setelah saya complaint dan marah-marah,
dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di
Manajemen Omni maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang
memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan complaint tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Ogi
(customer service coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima
tersebut hanya ditulis saran bukan complaint, saya benar-benar dipermainkan
oleh Manajemen Omni dengan staff Ogi yang tidak ada service nya sama sekali ke
customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima
pengajuan complaint tertulis.

Dalam kondisi sakit, saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen, atas nama Ogi
(customer service coordinator) dan dr. Grace (customer service manager) dan
diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan
saya.
Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari
lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000 makanya
saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya
masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr. Grace yang katanya adalah penanggung jawab masalah complaint saya
ini tidak profesional samasekali. Tidak menanggapi complaint dengan baik, dia
mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr. Mimi
informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen dan dr.
Henky namun tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas
(Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya
dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular, menurut analisa
ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena
sudah membengkak, kalau kena orang dewasa yang ke laki-laki bisa terjadi
impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Saya lemas mendengarnya dan
benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa
sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis
tinggi sehingga mengalami sesak napas.
Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya
tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagiih surat hasil lab 27.000 tersebut
namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan
waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu
kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni
memberikan surat tersebut. Saya telepon dr. Grace sebagai penanggung jawab
compaint dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya
namun sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang
kerumah saya. Kembali saya telepon dr. Grace dan dia mengatakan bahwa sudah
dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah, ini benar-benar kebohongan RS
yang keterlaluan sekali, dirumah saya tidak ada nama Rukiah, saya minta
disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan
waktu yang lama. Logikanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat
tertujunya kemana kan ? makanya saya sebut
Manajemen Omni PEMBOHONG BESAR semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang
mempermainkan nyawa orang.
Terutama dr. Grace dan Ogi, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan
customer, tidak sesuai dengan standard International yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr. Grace, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut
dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan
pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami, pihak manajemen hanya
menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai
kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan
diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari
sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? karena saya ingin tahu
bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni
mendapatkan pasien rawat inap. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan
janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah FIKTIF dan yang
sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak
napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani
dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan, mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan
asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal
mungkin tapi RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Ogi menyarankan saya bertemiu dengan direktur operasional RS Omni (dr. Bina)
namun saya dan suami saya terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka
dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput
atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan
apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup
untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing,
benar.... tapi apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dpercaya
untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan, semoga Allah
memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan
kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu
saat juga sakit dan membutuhkan medis, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang
saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau
dokter atau Manajemen RS Omni, tolong sampaikan ke dr. Grace, dr. Henky, dr.
Mimi dan Ogi bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi
perusahaan Anda.

Saya informasikan juga dr. Henky praktek di RSCM juga, saya tidak mengatakan
RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

salam,

Prita Mulyasari


Yang mau saya tanyakan.

Ada apa dengan jaksa yang membawa kasus seperti itu sampai ke meja pengadilan???
Apakah penahanan selama 3 minggu yang didapat Prita sudah sesuai dengan kemanusiaan?
Apa benar hukum kita hanya berpandang pada positive law saja?
Apa kasus tersebut tidak bisa diselesaikan dengan kekeluargaan saja???
Pencemaran nama baik yang berawal dari sekedar "unek unek" semata?
Dimana kebebasan berpendapat dan berekspresi??

Banyak kasus pencemaran nama baik yang lebih ekstrim tetapi bisa ditempuh dengan jalan kekeluargaan.

Salam,
~BikDei~