Saturday, September 5, 2009

Menulis,Organisasi,dan Munir

Wuiz...
Rajin bgt gue posting hari ini.Hari ini postingan ketiga,walau udah beda hari tapi menurut gue kalau matahari belum terbit,ya belum ganti tanggal.

Sebenarnya karena domain gue "www.ebikdei.com" mau expired 10 September nanti dan gak bisa diperpanjang karena si Adi yang kayak taik itu (gue bakal cerita di post yang beda).
Terpaksa gue harus ganti domain baru.Rencananya mau gue ganti dengan "ebikdei.net" dengan bantuan temen kampus gue, Mamo.Tapi katanya gak bisa sekarang pa gimana gitu gue gak ngerti.Manut aja,namanya juga minta tolong.

Oya,gue sempet ikut makul Hukum & HAM dua kali di semester ini.Nah,di kelas itu menyinggung tentang kematian Munir,aktivis HAM itu.

Sejak itu gue mencari cari artikel di inet dan berniat membuat sebuah tulisan tentang Munir (nanti,belum jadi).

Tadi malam gue nonton Kick Andy yang kebetulan membahas Munir.Seketika itu gue sebel,emosi kenapa kasus tersebut berhenti begitu saja di Pengadilan Negeri,bukan Pengadilan HAM.

Melihat kegigihan Munir,gue jadi inget gue dan apa yang udah gue lakuin yang menurut gue belum loyal.

Dulu awal semester1 gue pernah ikut BEM dan ditempatkan di Depkominfo gara gara gue bilang gue suka nulis.Dan gue bertanggung jawab atas apa?mading sodara sodara.Kerjaan gue mencari artikel,menempel,menghias,dan mewarna.It's so stupid and wasting time for me.Gue kecewa.

Dalam kepengurusan itu,gue pernah diberi tanggung jawab menjadi ketua panitia sebuah acara BEM yang berlangsung 4 hari.
Menurut gue bukan ketua panitia.Tapi juga sebagai perijinan,bendhahara,perkap.Mutar muter Dekanat dan Rektorat yang gak pernah "simple".Mengajukan proposal sponsor ke hampir semua kantor surat kabar di Solo dan banyak ditolak,bahkan sampai ke kantor pusat Pramuka Solo yang seumur hidup baru gue ke situ,sampai dengan memanjat pohon demi mengibarkan spanduk gue.

"Loyalitas!dimana?!Ini kerja tim!bukan perseorangan!"kira kira itu yang gue teriakin makian buat semua tim cowok gue yang ledha ledhe.Termasuk mahasiswa mahasibuk dengan ip di atas 3,5 yang selalu bertanya di kuliah yang islam abiz itu,dan cowok paling cakep menurut gue,dan temen gue yang sampai sekarang mensuplai kopi Lampung buat gue.

Gue juga pernah ikut UKM yang bergerak di bidang pers (faforit gue) di tingkat universitas.Sebelum seleksi dibuka,gue udah ikut diskusi terbatas mereka dengan gue satu satunya Mahasiswa Baru.Sebenarnya ada orang dalam yang bilang tanpa seleksi,gue jelas masuk.Tapi karena gue pikir gak fair,gue ikut dan akhirnya gak jadi karena gue kecelakaan.Tapi kadang gue masih ikut organisasi tanpa "ikatan".Tapi karena sebuah debat seorang senior,gue resmi keluar karena gue gak suka cara menulis gue diatur dan dibatasi.Yang gue inget,sebelum pergi gue bilang "aku tetap bisa jadi wartawan tanpa bantuan kalian"
Iya gue pengen jadi wartawan (bukan gosip) dan penulis.Tapi gue sama sekali gak tertarik kuliah di FISIP seperti anjuran beberapa orang dulu.Wartawan tidak dicetak FISIP.

Salam,
~BikDei~

Friday, September 4, 2009

Orang Cenderung Meremehkan Orang Lain

Ini masalah kerjaan dan usaha keluarga saya.

Boleh dibilang saya adalah penjual ayam atau dalam bahasa jawanya adalah bakul pithik.

Ini juga tentang UD DUA PUTRI yang dibentuk orang tua gue buat kedua putri mereka,gue ma kakak gue.

Sebelumnya,kami cuma berlaku sebagai penyetor atau distributor ayam yang ngambil langsung dari kandang berbagai PT ayam negeri dan menyalurkannya ke pedagang pedagang saya di beberapa pasar tradisional daerah kami dengan perantara DO.

Tapi sekarang kami lebih melebarkan sayap.Dari yang hanya menyalurkan ayam hidup ke para pemotong (sebutan buat pedagang pasar).Sekarang kami juga berlaku sekaligus menjadi pemotong yang mengirim ayam yang sudah bersih dan siap masak ke beberapa warung makan,rumah makan,pondok pesantren,warung steak.Pernah juga ke supermarket,tapi proredur yang ribet dan duit yang cair lama membuat kami malas.

Kalau kalian berpikir ayam di supermarket itu lebih segar itu salah besar.Itu ayam yang sudah lama yang diperbaruhi tampilannya oleh supermarket.
Mau ayam segar?pergilah ke pasar tradisional.

Jadi,dari warung sampai hotel pernah gue,mbak Diyah atau Mama masukin.
Dan tahu apa tanggapan mereka pada awalnya?
Selalu meremehkan kita dan kasarnya seperti dianggap ngemis.Yah gue sudah biasa dengan semua itu.Yang gue tahu ketika berdagang adalah angkuh itu belum tentu mampu dan senyum itu belum tentu ramah.Lo cari untung,gue juga cari untung.

Jangan meremehkan orang dulu lah.Apakah kalian kalian yang sukses itu tidak pernah merasakan berusaha?
Pernah kan?
Jadi janganlah tinggi hati seperti itu.

Dengerin gue dulu,kenalan ma gue,simpen kartu nama kami karena kami menawarkan kerja sama,bukan mengemis.
Terima kasih karena itu menjadi cambuk buat gue.

Salam,
~BikDei~

Tengil Merindukan Bulan

Selamat malam.
Beberapa postingan sebelum domain gue expired.

Tadi gue baru ngobrol ma temen gue (cowok).

Sebelumnya gue pengen menjelaskan relationship gue dulu.Ketika gue menyebut temen gue cowok,berarti he's really just my friend.
Gue gak suka makan temen baik cowok atau mantan temen gue atau temen cowok gue sendiri.

Jadi ini percakapan gue ma temen gue itu.

He: Bik,cariin pacar dnk!
Ebik: halah,gue aja juga lagi nyari.
H: bantuin geh!
E: yang cantik pokoknya.
H: wis pokoe kudu cantik.
E: kenapa harus cantik?
H: pokoe gt,trus dia juga cewek baek baek,setia ma gue.
E: emang lo uda setia ma cewek cewek lo yang dulu.
H: gue bakal berubah kalo dapet yang baek.
E: emang lo ndiri udah baek?
H: tadi gue bilang gue berubah kalo ketemu yg baek.
E: kalo dia cantik,lo suka tapi kurang baek gmn
H: gue bakal rubah dia jadi baek
E: ngrubah diri sendiri aja gak bisa,apalagi ngrubah orang lain?
H: yang jelas gue mau yang baek buat gue.
E: hello!?kalo mau yang baek,jadi orang baek dulu dnk!jangan asal enaknya doank.

Nah,jangan jadi tengil merindukan bulan gitu dnk!
Bukannya gue gak mau bantuin lo,tapi gue kasihan ma cewek yang bakal cuma nemu apesnya aja ma lo.

Kesimpulan yang pengin gue tegesin.
Kita boleh menginginkan yang terbaik buat kita,tapi apakah kita sudah berusaha menjadi orang yang terbaik juga buat seseorang yang terbaik buat kita?
Menanam baik pasti mendapatkan hasil yang baik pula.

Salam,
~BikDei~

Thursday, September 3, 2009

21 Guns


Into the sky
You and I

When you’re at the end of the road
And you’ve lost all sense of control
And your thoughts have taken their toll
When your mind breaks the spirit of your soul

Your faith walks on broken glass
And the hangover doesn’t pass
Nothing’s ever built to last
You’re in ruins

One, 21 guns
Lay down your arms
Give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms
Into the sky
You and I

Did you try to live on your own
When you burned down the house and home?
Did you stand too close to the fire?
Like a liar looking for forgiveness from a stone

When it’s time to live and let die
And you can’t get another try
Something inside this heart has died
You’re in ruins

One, 21 guns
Lay down your arms
Give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms
Into the sky

One, 21 guns
Lay down your arms
Give up the fight
One, 21 guns
Throw up your arms
Into the sky
You and I