Friday, September 4, 2009

Orang Cenderung Meremehkan Orang Lain

Ini masalah kerjaan dan usaha keluarga saya.

Boleh dibilang saya adalah penjual ayam atau dalam bahasa jawanya adalah bakul pithik.

Ini juga tentang UD DUA PUTRI yang dibentuk orang tua gue buat kedua putri mereka,gue ma kakak gue.

Sebelumnya,kami cuma berlaku sebagai penyetor atau distributor ayam yang ngambil langsung dari kandang berbagai PT ayam negeri dan menyalurkannya ke pedagang pedagang saya di beberapa pasar tradisional daerah kami dengan perantara DO.

Tapi sekarang kami lebih melebarkan sayap.Dari yang hanya menyalurkan ayam hidup ke para pemotong (sebutan buat pedagang pasar).Sekarang kami juga berlaku sekaligus menjadi pemotong yang mengirim ayam yang sudah bersih dan siap masak ke beberapa warung makan,rumah makan,pondok pesantren,warung steak.Pernah juga ke supermarket,tapi proredur yang ribet dan duit yang cair lama membuat kami malas.

Kalau kalian berpikir ayam di supermarket itu lebih segar itu salah besar.Itu ayam yang sudah lama yang diperbaruhi tampilannya oleh supermarket.
Mau ayam segar?pergilah ke pasar tradisional.

Jadi,dari warung sampai hotel pernah gue,mbak Diyah atau Mama masukin.
Dan tahu apa tanggapan mereka pada awalnya?
Selalu meremehkan kita dan kasarnya seperti dianggap ngemis.Yah gue sudah biasa dengan semua itu.Yang gue tahu ketika berdagang adalah angkuh itu belum tentu mampu dan senyum itu belum tentu ramah.Lo cari untung,gue juga cari untung.

Jangan meremehkan orang dulu lah.Apakah kalian kalian yang sukses itu tidak pernah merasakan berusaha?
Pernah kan?
Jadi janganlah tinggi hati seperti itu.

Dengerin gue dulu,kenalan ma gue,simpen kartu nama kami karena kami menawarkan kerja sama,bukan mengemis.
Terima kasih karena itu menjadi cambuk buat gue.

Salam,
~BikDei~

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comment