Thursday, August 5, 2010

Jika Saya Buta Nanti

Bayangkan jika anda menjadi mendadak buta.Tidak bisa melihat.Yang tersisa tinggalah kegelapan yang tiada berlabuh.

Bingung?
Putus Asa?
Marah dengan keadaan?
Sedih?
Kecewa?
Bermimpi untuk dapat melihat kembali?

Lalu bagaimana jika dalam kebutaan itu anda harus segera menentukan langkah anda selanjutnya?

Meminta tolong kepada orang lain kah?
Atau kembali napak tilas langkah anda sebelumnya dan mundur terus sampai anda menemukan tempat aman bagi anda?

Anda memutuskan untuk terus melangkah ke depan karena bagi anda mundur tak akan merubah apapun dan diam di tempat sama dengan tidak memperbaiki apapun.

Ketika anda berjalan,kemudian anda merasakan adanya sebuah jembatan.Sebuah jembatan dengan sebuah titihan berupa bambu.
Apa yang akan anda lalukan?
Terus berjalan kah?

Kalau saya menjadi anda,saya akan berhenti sejenak.
Sejenak berdoa.
Menajamkan pendengaran saya,mendengarkan kemana arah jalannya sang angin..menghantam sebuah batasan apakah si angin.
Menghela napas panjang lalu membuka lebar lebar mata batin saya.Menajamkan insting.

Lalu melepas semua alas kaki saya.Semuanya tanpa sisa agar saya benar benar bisa membaca setiap ruas bambu yang akan saya lalui.
Menanggalkan semua beban yang saya bawa.Beban di kepala,tangan,kaki,dan hati saya.

Lalu mulai meregangkan tangan,bukan untuk mencari pegangan di kanan,kiri,depan,atau belakang.
Hanya sekedar meregangkan untuk keseimbangan ketika saya menyeberang.Pegangan sesungguhnya sudah ada pada mata hati dan batin saya.

Lalu saya siap meraba tiap ruas bambu dengan jari jari kaki saya sebelum meletakan telapak kaki saya.

Satu per satu
Lambat mungkin,tapi saya ingin selamat dan akan selamat.

Salam,
~BikDei~

3 comments:

Thanks for your comment