Monday, September 10, 2012

Bakat, Impian, Cita-Cita, dan Jurusan

Solo, 18 Agustus 2012

Siang itu H-1 Idul Fitri. Seperti biasa kalau janjian dengan teman-teman, saya hampir selalu berlari berkejaran dengan waktu agar tidak terlambat. Memenuhi janji nonton bareng film Perahu Kertas di 21 Grand Mall Solo. Apa hubungannya dengan judul posting saya? Karena setelah nonton film itu saya jadi ingat diri saya beberapa waktu dulu yang mungkin sudah tak terlalu terlihat. Bakat, Impian, Cita-Cita, dan Jurusan.


Boyolali, 6 September 2012
Hampir tengah malam. Kecapekan baca buku panduan lolos CPNS malah buat saya gak bisa tidur. Semalam sebelum berangkat ke Semarang, saya habiskan membaca buku AKU karya Sjuman Djaya. Well, Chairil Anwar ini kembali mengingatkan saya, menguatkan kenangan bahwa dulu sempat bermimpi menjadi seorang penulis.

Boyolali, 9 September 2012
Barusan sebelum saya membuka leptop dan mencolokkan modem kemudian berselancar di blogspot, saya membaca buku Perahu Kertas karya Dewi Lestari. Hasil dari rasa penasaran dan sedikit menyesal kenapa saya harus nonton filmnya terlebih dahulu sebelum baca bukunya. Baru sampai halaman 12 dan saya putuskan stop it.

Dulu, waktu saya masih TK, dengan lantang dan tegas saya berkata bahwa "saya mau jadi dokter!". Termakan budaya pandangan orang tua waktu itu yang berpendapat a doctor is awesome carier. Hey karier??Pekerjaan? Emm saya rasa cita-cita dan mimpi bukan berarti pekerjaan atau karier di masa depan. Kemudian mulai kelas 3 SD, kesukaan membaca buku itu timbul. Dari buku cerita di perpustakaan SD pertama saya yang sangat sederhana dan terbatas, kemudian mulai penasaran dengan apa itu buku " Soekarno dan istri-istinya" yang saya baca kelas 4 SD. Saya dapat buku itu dari kakeknya kakak kelas saya waktu itu. Yang kemudian ketahuan Mama kemudian dibakar.  Dilanjutkan ke perpustakaan SD kedua saya, saat itu saya punya masalah dengan pergaulan dan sering berantem dengan teman. Dan anak baru gak boleh songong men. Terkucilkan akhirnya saya lebih sering membaca buku di perpustakaan.

SMP gak ada cerita yang terlalu berarti, kecuali pernah sekali cerpen majalah ABG yang sedang booming saat itu. Waktu SMP saya gak bisa dipisahkan dengan Harry Potter. Karena setiap tahun yang menarik buat saya hanya menunggu buku dan film baru Harry Potter.

Kalau setelah membaca prolog di atas, apa menurutmu saya punya bakat menulis? I don't know. Tidak terlalu kepedean juga.
SMA yang katanya bunga-bunganya kehidupan. Yang katanya masa paling menyenangkan seumur hidup. Di situ, menurut saya, kita mulai dipisah pisahkan. Antara IPA atau IPS atau Bahasa. Meski saya tidak sekolah di SMK yang lebih bersifat kejuruan, tapi bukankah canbang ilmu intinya adalah IPA, IPS, Atau Bahasa.

Mengalami masa kurikulum yang baru, yang mengharuskan siswa SMA sudah dijuruskan di kelas 2. Saya masuk IPA waktu itu. Karena nilai eksak saya lebih tinggi? Hey tapi saya juga suka sosial. Jadi kenapa harus memilih. Karena kalau boleh memilih saya akan memilih Bahasa. Sayangnya kelas Bahasa gak jadi dibuka karena kuotanya sedikit. Akhirnya saya menghabiskan waktu 2 tahun di IPA dengan laboratorium dan jas labnya.

Selama SMA gak ada yang saya hasilkan tentang tulisan? Makin jarang membaca buku dan menulis waktu itu. Tapi saya masih ingat puisi saya pernah dimuat di magzine lokal. Distro distroan gitu dech. Maklum zaman SMA :D

Pertengahan 2007, di mana saya lulus SMA dan akan melanjutkan ke bangku kuliah, saya ikut SPMB dan ambil IPC (campuran IPA dan IPS) dengan pilihan 1. Kedokteran Umum, 2. Teknik Industri, 3. Hukum. Saya isi perguruan tinggi negeri satu-satunya di Solo. Saya gak daftar perguruan tinggi lain waktu itu. Bahkan cadangan pun tidak. Karena saya tahu saya akan diterima di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Solo. Haha. Agak kepedean ya? Bahkan ketika membeli koran dan liat pengumumannya lebih mendebarkan melihat pengumuman SPMB kakak saya 2 tahun sebelumnya dan luput semua :D

Dari 2007- 2011 saya kuliah dan belajar hukum. Berbagai macam aturan. Pernah suatu semester saya membeli buku-buku Hukum dan semuanya asli, eh malah dibilang "Ngapain punya buku asli?". Setelah itu ya saya hanya punya slide-slide kuliah sama seperti kebanyakan teman-teman saya. Lalu sempat memburu banyak buku ketika proses skripsi. buku- buku tentang sengketa tanah, keperdataan, administrasi negara. Saya putuskan ambil skripsi bagian Hukum Administrasi Negara karena keadaan waktu itu.

Pernah ikut Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga waktu kuliah. Dan ditempatkan di Departemen Komunikasi dan Informasi. Agak sebal waktu itu, kenapa saya dimasukkan ke Depkominfo? Karena kerjaan saya mengurusi mading. Karena waktu itu Depkominfo adalah departemen yang "kembali" dihidupkan, belum banyak pekerjaan. Dan karena saya termasuk yang ngurus mading, alhasil puisi saya pernah nongol juga di mading FH UNS. Bicara prestasi membanggakan apa yang pernah saya lakukan sewaktu di BEM? Saya akan jawab saya pernah jadi ketua panitia pameran fotografi mengenang 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 10 tahun Reformasi saat 2008 di Lembah Teknik UNS. Dan itu selalu saya masukan di cv lamaran pekerjaan saya sampai saat ini.hehe

Lalu Desember 2011- April 2012 saya pernah bekerja sebagai legal staff seorang pengusaha Solo. Pengalaman bekerja yang seumur jagung itu membuat saya pingin mengulangi kuliah Hukum lagi.haha. Karena saya rasa ilmu yang saya punya cuma sedikit sekali.

Kalau kamu bertanya apa cita-cita saya saat ini? Saya ingin jadi notaris sekaligus penguasaha. Dan jalan ke situ saya rasa masih sangat panjang. Harus menimba ilmu ke banyak orang, tempat dan waktu.
Dan dalam hati yang paling dalam, saya masih ingin menjadi penulis. Dibalik cita-cita yang sarat akan hukum, saya pernah dan sering bermimpi saya hanya berjalan-jalan lalu menulis lanjut jalan lagi dan menulis. Dan saya menjadi orang yang punya kebebasan finansial dengan itu semua. Haha........

Jadi, apakah bakat, impian, cita-cita, dan jurusan harus selalu tidak nyambung? Bagaimana menyambungkannya kembali?

Salam.
~BikDei~


4 comments:

  1. semoga tercapai cita-citanya...

    ReplyDelete
  2. sama, masih terbesit di hati untuk ingin jadi penulis :D

    ReplyDelete

Thanks for your comment