Tuesday, September 25, 2012

Menulis Itu Menyembuhkan Hati

Sumber Gambar : http://goo.gl/b8LSb

Menulis itu menyembuhkan hati. 
Judul buat posting kali ini tiba-tiba melintas di kepala (seperti biasanya), saya dapat dari twitter. Maaf tidak bisa menyebutkan dari akun mana kata-kata "menulis itu menyembuhkan hati" karena saya LUPA :D

Berikut akan saya sisipkan sebuah puisi abal-abal yang pernah saya buat di salah satu bangku 3F di SMP Negeri 3 Surakarta.


Duduk bersimpu tangan di meja
Berpusing kipas di atas
Terlihat di cermin bayangan
Lukisan wajah manusia
Kosong terasa sepi

Gaduh menggelegar terdengar
Berkecimuk suara parau
Kaki bergoyang-goyang
Tanda kesendirian datang
Karna guntur masih menggelegar

Di sini sepi sendiri
Licin seakan tak tersentuh
Batu biru belum datang
Belum datang awang menghalang
Jatuh lalu terpercik air

Di sana api membara membakar
Membakar plastik membara
Hangus dan hilang tanpa tanda
Kedua kaki berkejaran
Berbaris rapi serigala datang

Kemudian di bangku kelas XG SMA Negeri 4 Surakarta, puisi itu dibaca oleh seorang teman saya. Pria dan benar-benar cuma teman (dalam subjek pandang saya). Waktu itu, dia mendiskripsikan puisi saya dalam makna denotasi. Katanya, puisi itu dibuat ketika saya sedang merasa bosan menunggu guru yang belum datang tapi tidak mau bergabung maen dengan teman-teman lain. Katanya juga saya sialan, guru kok dibilang serigala.hehe.
Wow speachless saat itu, di mana teman saya bisa benar-benar gamblang membaca apa yang saya tulis di situ. Kemudian dia menulis cepat sebuah puisi di lembar sebaliknya dari puisi saya di atas.

Sering aku merasa mati
Dalam sendiri dan malam-malam sepi
Ini bukan diriku
Orang itu terpaku di jendela
Melihat keluar dirinya yang seharusnya
Yang dulu pernah menjadi dia
Sekarang
Aku merasa orang lain ketika menjadi diriku


Puisi dari teman saya yang sekilas dia tulis itu mungkin mencerminkan dirinya, atau mungkin orang lain. Saya tidak pernah tanya. Sedangkan teman saya itu kabar yang terakhir saya terima, dia kuliah di FISIP UNS kemudian pindah ke Filsafat UGM. Entah selesai atau tidak, dia kemudian hilang ditelan bumi kalau kata teman-teman yang lain. Muncul lagi dengan format sangat islami. Berbeda sekali dengan teman saya yang cenderung gila yang saya kenal waktu SMA.

But, nevermind. Semua manusia itu tumbuh dan berkembang dan memilih menjadi siapa dirinya :)

Mundur lagi ke belakang, saat perpisahan kelas 3 SMA (kebetulan saya dan teman saya 3 tahun sekelas terus :D), dia menuliskan kata-kata penggambaran diri saya yang paling membuat jleb di antara semua komentar teman saya, "kamu tidak bisa menjaga kepribadian sebagai seorang wanita yang mungkin mendekati sempurna. kamu bisa lebih baik, jauh lebih baik lagi dari sekarang". 

Menulislah terus. Menulislah. Menulis itu menyembuhkan hati. Menulislah. Buat perkembangan akan dirimu jelas di semua tulisanmu selama hidupmu. Menulis itu cerminan dirimu. Tumbuh dan berkembanglah. Seperti tulisanmu yang juga akan ikut tumbuh dan berkembang.

Terima kasih buat teman saya di atas. Teman saya yang kembali muncul lagi beberapa bulan lalu mengeluarkan komentarnya yang mak jleb lagi. Semoga kita semua bisa tumbuh, berkembang dan menjadi lebih baik lagi dari sekarang.

Salam,
~BikDei~

8 comments:

  1. hmmmm,

    kini aku sedikit paham... kenapa ada psikologi sastra.. :)

    ReplyDelete
  2. hehe...
    bisa dijelaskan bagaimana psikologi sastra itu mbak Novi?:)

    ReplyDelete
  3. setuju :)
    menulis itu memang menyembuhkan, seakan akan kita bercerita kepada orang lain

    ReplyDelete
  4. @pipit pito : betul sekali :)

    @atmo : terima kasih kalau bisa menjadi inspirasi.hehe

    ReplyDelete
  5. Setuja..

    dengan menulis, membebaskan diri dari penat.

    ReplyDelete
  6. dalam makna denotasi itu maksudnya kepiye mbak??

    ReplyDelete
    Replies
    1. denotasi berarti makna sebenarnya, kebalikan dari konotasi mas :))

      Delete

Thanks for your comment