Monday, October 7, 2013

K.A.R.M.A

Tulisan kali ini dibuat singkat dan tanpa gambar karena saya bingung gambar apa yang bisa mewakili 'posting' kali ini secara general. Yang pasti tema kali ini cukup mengusik pikiran saya seminggu ini.

Kalian pasti pernah atau bahkan sering mendengar 'karma'. Kalau saya boleh mengartikan karma dengan bahasa saya sendiri, karma adalah suatu keadaan yang merupakan balasan atas perbuatan tiap manusia. Balasan ini bisa negatif dan positif. Akan tetapi, sebutan karma lebih sering untuk hal yang bersifat negatif.

Sebagai contoh, sering kali ketika kita atau orang di sekitar kita ketika mengalami suatu hal buruk lalu berkata, "semoga dia/mereka memperoleh karmanya nanti " atau, " Tuhan tidak tidur, dia/mereka pasti akan memperoleh karmanya nanti".

Dari sedikit celetuk yang sering saya dengar atau mungkin saya sendiri pernah berkata demikian, dapat saya ambil hipotesa kecil mengenai karma, yaitu :
1. Karma adalah balasan atas perbuatan kita.
2. Karma itu pasti, datangnya kapan yang belum pasti.
3. Karma datangnya dari Tuhan.

Saya ingin bertanya, ketika kamu berkata, "semoga dia/mereka mendapat karmanya" apakah kamu juga bersamaan berfikir bahwa keadaan yang kamu alami sekarang adalah karma atas perbuatanmu dulu? :)

Anggap saja kamu tidak akan pernah bisa melihat sisi mata uang logam secara bersamaan, tapi kamu kan bisa melihat mata uang logam dari sisi diameternya. Tidak terlihat semua namun kamu bisa menarik kesamaan dan dua sisi sekaligus.

Anggap juga kamu berdiri 2 meter dari sebuah pintu. Ketika memandang pintu, kamu akan melihat sisi daun pintu yang mengerucut kecil ke dalam? Tapi ketika kami berdiri tepat di bawah pintu, sisi dalam dan luarnya sama kan? :)

Semoga bisa memberi sedikit renungan mengenai sudut pandang atau 'point of view'

Salam,
-BikDei-

Sunday, September 8, 2013

Mengejar Matahari Terbit di Bromo ( part 1 )

Ini adalah cerita pengalaman kedua saya berkunjung di gunung Bromo.Di akhircerita semoga kalian mengerti mengapa saya beri judul "Mengejar matahari terbit di gunung Bromo".

Berawal dari hasil ketemuan dengan anak anak UNS di Surabaya, merencanakan liburan bareng ke Bromo. Dan belum ketemu jadwal pasti akan berangkat kapan dan siapa saja, sekonyong konyong sabtu, 24 Agustus 2013 mendekati tengah malam saya diajakin pergi ke Bromo saat itu juga.

Wow!interest tapi juga was-was,but i thought i need refresment for my body and my soul. Berangkatlah kami berlima dari jantung kota Pahlawan menuju Bromo.yeah!! You know that?Mengumpulkan 5 orang secara acak dan mendadak butuh waktu juga and finnally, pukul 12:30 am,ketika saya melirik jam tangan, kami baru masuk ke tol Surabaya-Pasuruan.

Mengingat Mei tahun kemarin saya juga ke Bromo, jam segitu saya sudah naik dari kota Probolinggo menuju Bromo. But nevermind, i try to enjoy my pleasure with my new friends. Duduk di depan saya berniat tidak tidur dan melihat jalan, tapi bohong banget kalo saya tidak tidur..hhaa...Sekali terbangun di pompa bensin, pukul 03:16 am kami tiba di pedesaan Bromo. Time to enjoy cold air...hmm hmm...Tapi ternyata dinginnya biasa saja karena memang musimnya atau bagaimana. Bagi saya musim itu cuma satu, yaitu musim panas :D

And i love mountains. The smells, cold, sunrise, pinus.

Menyewa sebuah mobil hartop sekalian supirnya Rp 600.000,-. Sedikit was was lagi, jangan jangan saya kelewatan matahari terbit. Jujur saya berdoa dalam hati, meskipun matahari tidak akan pernah terlambat terbit, saya berdoa semoga matahari terbit mau menunggu kami dan terlambat terlihat. Karena butuh waktu 1 jam untuk menuju puncak Penanjakan dan kami sudah sangat terlambat.

Perjalanan kami terhenti dua kali karena saya muntah karena tidak tahan goncangan di mobil. Tahun kemarin, badan saya sangat fit untuk naik gunung atau mungkin karena belum makan malam juga.

Satu jam kemudian kami sampai di jalanan Penanjakan dan banyak sekali mobil hartop di jalanan depan kami. Its mean, kami sangat jauh dari puncak Penanjakan karena cahaya warung warung di kejauhan belum terlihat. Ya Allah, okey akhirnya kami jalan menanjak ke atas, setengah jam yang sangat menyiksa, udaranya yang dingin, capek sekali saya, cuma berusaha menyemangati diri, ayo jalan pelan teratur, dan masih berharap matahari terlambat terlihat.

Pukul lima, kami berlima sampai di aula pandang di puncak Penanjakan, tiga teman saya memilih duduk dan akhirnya memutuskan turun untuk istirahat di warung. Saya dan Tumar masih setia menunggu matahari yang benar benar terlambat terlihat terbit hari itu.

Terpencar dengan Tumar, saya naik ke sebuah tiang pancang bersama kamera di gadget saya, posisi saya saat itu lebih tinggi dari lautan manusia di depan dan belakang saya.hhee, mbatin "salahe ono tiang gag digae".hhee...
And Tumar?i dont know where is he..
Lagi lagi saya was was, ketiga hape saya tidak ada signal,saya tidak punya nomer hape keempat teman saya,dan saya tidak mencatat nomer plat hartop saya..nahlooo...Pikir nanti kalo saya sudah bertemu matahari..

Setengah jam lebih, matahari baru benar benar terbit pukul 6 lebih. Terlambat ya...
Alhamdulillah, kali kedua ini saya bisa melihat sunrise di Penanjakan. Setelah kesempatan pertama gagal karena kabut.

Mengganjal perut dengan teh manis panas yang langsung dingin dan pop mie, kami menuju hartop kami yang akan membawa kami menuruni Penanjakan dan menuju gunung Bromo.

Selama turun dari Penanjakan, kami sempat berfoto dulu di Bukit Cinta, sebuah view yang membuat kamu bisa melihat jelas Bromo, Batok, dan Semeru di seberang.

Bersambung.....


Sunday, April 28, 2013

No Place Like Home

Home...
Home atau dalam BahasaIndonesia artinya adalah rumah.

No Place Like Home...
Btw, mengapa bukan No Place Like House?
Artinya sama bukan?

Saya jadi ingat perkataan sekaligus pertanyaan salah seorang teman saya, mengapa ada istilah "homely" bukan "housely"
Homely means place like home. Just like, still not the real home :)

Lalu ada lagi perkataan seorang teman saya yang berbeda, "rumah adalah tujuan terakhir manusia"
Menurut saya, rumah bukan sekedar papan sebagai pelengkap kebutuhan primer manusia, tapi rumah adalah sesuatu yang menjadi tujuan terakhir kita, sesuatu yang akan kita inginkan kembali untuk selalu pulang.

hujan pertama tahun 2012 di teras rumah kami

Saturday, February 23, 2013

Nikmatnya Nasi Krawu Khas Gresik

Beberapa waktu kemarin saya sempat berkunjung ke Kota Gresik, Jawa Timur. Sebuah kunjungan singkat memang, tapi masih bisa menyempatkan diri mencicipi masakan khas kota yang terkenal dengan salah satu merek semennya.

Nasi krawu. Kata orang Gresik sich kurang lengkap kalo pergi ke Gresik tapi belum mencicipi hidangan ini. Akhirnya saya meluncur  warung makan Bu Azza di Jln. Panglima Sudirman No. 83A Gresik yang khusus menyediakan menu nasi krawu.

Sunday, February 17, 2013

Rectoverso : Cinta Yang Tak Terucap

Cinta yang tak terucap. Kalau boleh saling jujur, pasti semua manusia di dunia pernah merasakan dan mengalami cinta yang tak terucap. Mungkin itu juga yang coba ditampilkan oleh Dewi "Dee" Lestari lewat kumpulan cerpen Rectoverso.

Rectoverso sendiri merupakan hibrida antara karya fiksi dan musik yang kemudian diangkat ke layar leba,r sama dengan saudaranya, Perahu Kertas. Well, di sini saya akan mecoba berbagi cerita tentang Film Rectoverso saja  ( karena saya belum sempat membaca bukunya).

Lagi, untuk kedua kalinya karya Dewi Lestari diangkat ke layar lebar. Dan lagi, bertemakan cinta (hehe). Tapi kali ini Rectoverso muncul dengan 5 plot yang berbeda dan saling berdiri sendiri. Sengaja memanfaatkan moment valentine film ini mulai launching tanggal 14 Februari 2013 sepertinya sangat cocok dengan momen romantis yang sedang mewabah tiba-tiba.

Dari segi cerita, film ini menceritakan 5 plot cerita cinta yang berbeda dan tidak berhubungan satu sama lain seperti dalam bukunya. Digarap 5 sutradara dari kalangan artis, menurut saya langkah berani sekaligus promosi dari seorang Dewi Lestari. Di film ini peran Dewi Lestari hanya sebatas sebagai penonton, berbeda dengan Perahu Kertas sebelumnya dimana skenario langsung digarap oleh Dee. Rectoverso juga disajikan dalam english translation.