Sunday, September 8, 2013

Mengejar Matahari Terbit di Bromo ( part 1 )

Ini adalah cerita pengalaman kedua saya berkunjung di gunung Bromo.Di akhircerita semoga kalian mengerti mengapa saya beri judul "Mengejar matahari terbit di gunung Bromo".

Berawal dari hasil ketemuan dengan anak anak UNS di Surabaya, merencanakan liburan bareng ke Bromo. Dan belum ketemu jadwal pasti akan berangkat kapan dan siapa saja, sekonyong konyong sabtu, 24 Agustus 2013 mendekati tengah malam saya diajakin pergi ke Bromo saat itu juga.

Wow!interest tapi juga was-was,but i thought i need refresment for my body and my soul. Berangkatlah kami berlima dari jantung kota Pahlawan menuju Bromo.yeah!! You know that?Mengumpulkan 5 orang secara acak dan mendadak butuh waktu juga and finnally, pukul 12:30 am,ketika saya melirik jam tangan, kami baru masuk ke tol Surabaya-Pasuruan.

Mengingat Mei tahun kemarin saya juga ke Bromo, jam segitu saya sudah naik dari kota Probolinggo menuju Bromo. But nevermind, i try to enjoy my pleasure with my new friends. Duduk di depan saya berniat tidak tidur dan melihat jalan, tapi bohong banget kalo saya tidak tidur..hhaa...Sekali terbangun di pompa bensin, pukul 03:16 am kami tiba di pedesaan Bromo. Time to enjoy cold air...hmm hmm...Tapi ternyata dinginnya biasa saja karena memang musimnya atau bagaimana. Bagi saya musim itu cuma satu, yaitu musim panas :D

And i love mountains. The smells, cold, sunrise, pinus.

Menyewa sebuah mobil hartop sekalian supirnya Rp 600.000,-. Sedikit was was lagi, jangan jangan saya kelewatan matahari terbit. Jujur saya berdoa dalam hati, meskipun matahari tidak akan pernah terlambat terbit, saya berdoa semoga matahari terbit mau menunggu kami dan terlambat terlihat. Karena butuh waktu 1 jam untuk menuju puncak Penanjakan dan kami sudah sangat terlambat.

Perjalanan kami terhenti dua kali karena saya muntah karena tidak tahan goncangan di mobil. Tahun kemarin, badan saya sangat fit untuk naik gunung atau mungkin karena belum makan malam juga.

Satu jam kemudian kami sampai di jalanan Penanjakan dan banyak sekali mobil hartop di jalanan depan kami. Its mean, kami sangat jauh dari puncak Penanjakan karena cahaya warung warung di kejauhan belum terlihat. Ya Allah, okey akhirnya kami jalan menanjak ke atas, setengah jam yang sangat menyiksa, udaranya yang dingin, capek sekali saya, cuma berusaha menyemangati diri, ayo jalan pelan teratur, dan masih berharap matahari terlambat terlihat.

Pukul lima, kami berlima sampai di aula pandang di puncak Penanjakan, tiga teman saya memilih duduk dan akhirnya memutuskan turun untuk istirahat di warung. Saya dan Tumar masih setia menunggu matahari yang benar benar terlambat terlihat terbit hari itu.

Terpencar dengan Tumar, saya naik ke sebuah tiang pancang bersama kamera di gadget saya, posisi saya saat itu lebih tinggi dari lautan manusia di depan dan belakang saya.hhee, mbatin "salahe ono tiang gag digae".hhee...
And Tumar?i dont know where is he..
Lagi lagi saya was was, ketiga hape saya tidak ada signal,saya tidak punya nomer hape keempat teman saya,dan saya tidak mencatat nomer plat hartop saya..nahlooo...Pikir nanti kalo saya sudah bertemu matahari..

Setengah jam lebih, matahari baru benar benar terbit pukul 6 lebih. Terlambat ya...
Alhamdulillah, kali kedua ini saya bisa melihat sunrise di Penanjakan. Setelah kesempatan pertama gagal karena kabut.

Mengganjal perut dengan teh manis panas yang langsung dingin dan pop mie, kami menuju hartop kami yang akan membawa kami menuruni Penanjakan dan menuju gunung Bromo.

Selama turun dari Penanjakan, kami sempat berfoto dulu di Bukit Cinta, sebuah view yang membuat kamu bisa melihat jelas Bromo, Batok, dan Semeru di seberang.

Bersambung.....