Monday, June 6, 2016

Antara Surabaya dan Semeru


Antara Surabaya dan Semeru

Tersentak di pagiku
Kujarang air untuk kupiku
Merenung kupandang buih
Meregang jarak kemarin di Semeru

Lalu deru mobil melaju meninggalkan teras
Tanda pegawai memulai menjemput laju
Dua tiga lima kali terdengar sirine mengeras
Mengumpat menarik batas



Antara Surabaya dan Semeru
Jengah
Tumpukan kertas inginku
Ingin ku habiskan dalam sekali kejap
Kemudian dia mencibiri cermin
Kepada kertas yang membawanya kemarin
Kemarin di Semeru
Laki, perempuan dan bini orang
Tak hentinya meraung
Minta jawaban kepada seorang amatiran
Lalu kepada siapa kuberkesah?
Kepada anda yang bahkan segan menjawab tanya?
Tanya yang kau buat kabur dibawa kabut
Hilang dan kembali jengah
Kata mereka cinta adalah jawaban
Jawab dari sekian tanya
Sedang sang pecinta tak kurang dirasa
Ibu pernah berucap
Pulanglah bila telah kau temukan
Hai bunda
Haruskah aku pulang sekarang?
Bukankah menakar senang dengan cinta merupakan wujud kekerdilan?
Sama dengan tiga ratus enam puluh derajat mengitari ranu dianggap ketidakwarasan.
Antara Surabaya dan Semeru
Jurang antara beribu ekspektasi dan sejuta mimpi
Ke puncak sekali lagi bersamaku
Bisakah itu?

( Surabaya, May 17, 2016 )

-Ebikdei-

No comments:

Post a Comment

Thanks for your comment