Sunday, June 5, 2016

Puisi adalah pemberian bukan permintaan

Selamat pagi dari Boyolali.
Pagi ini 3:39 am ( saya lebih memilih menggunakan setting 12 jam daripada 24 jam karena meski saya pandai matematika, saya paling malas berpikir soal angka ).

Tulisan ini sudah ditemani sacangkir kopi instan yang selalu disiapkan Mama ketika saya di rumah dan musik edm di kedua kuping saya.


Kurang lebih sebulan lalu saya mendaki gunung Semeru dan seminggu kemudian muncullah sebuah puisi berjudul 'Antara Surabaya dan Semeru'. Lain kalu akan saya post and save di sini. Berhubung keterbatasan sinyal di desa dan saya ngetik di handphone.

Beberapa hari setelah puisi itu saya buat, saya mencoba menghubungi seorang teman saya yang saya tahu dia penyuka puisi dan kadangkala menulis puisi.

Mundur beberapa tahun dulu.
Saya punya dua orang teman yang keduanya tidak saling kenal. Keduanya pernah satu universitas saat saya nemempuh kuliah di UNS. Yang pertama kemudian pindah jurusan filsafat di universitas paling keren di Jogjakarta. Kemudian terakhir saya dengar dia masuk organisasi keagamaan kemudian hilang kontak. Yang kedua adalah aktivis mahasiswa dan demonstran di Ibukota. Keduanya adalah pria dan teman baik saya. Kesamaannya adalah kita penikmat kopi, buku, puisi, dan terlahir berzodiak dengan lambang air. Aquarius

Karena yang pertama menghilang, saya menghubungi yang kedua. Dan mengirim puisi saya.
Dari sekian panjang kata-katanya, hanya dua pertanyaan yang saya ingat.
Setelah empat tahun akhirnya menulis puisi lagi?
Ada apa di Semeru?

Beberapa hari kemudian muncul seorang teman saya bilang begini, " mbak, aku jadi pingin nulis puisi" dan copy paste puisi yang saya baca di whatsaap messanger saya.

Teman saya tadi mengingatkan saya dengan seorang kekasih lama saya yang pernah meminta sebuah puisi. Pada akhirnya saya buatkan kemudian saya lupakan.

Kau tahu, kau harus mencapai sebuah titik ketegangan di hati dan kepalamu yang mampu membuatmu merangkai sebuah puisi.

Perasaan yang dalam. Keinginan yang terpendam. Teriakan yang digaungkan dalam rangkaian. Sebuah keindahan.

Dan semuanya tak akan pernah murni bila diminta. Puisi itu pemberian bukan permintaan.

Entah berapa puisi yang pernah saya tulis di buku diary, kertas, halaman blog, majalah dinding, atau newsletter produk indi lokal.

Dalam memang. Tapi tetap sebuah lembaran kehidupan yang bisa dilupakan. Jadi jangan menghakimi seseorang atas puisi yang telah dia tulis. Kehakiman atas inspirasi menurut saya tidak pernah adil. Sama seperti kenangan, puisi juga kenangan yang dibuat indah.

Meski tak melulu masalah hati, terima kasih untuk orang orang yang pernah menjadikan saya inspirasi mereka. Meski baru saya sadari.

Lalu untuk deretan inspirasi saya yang hanya saya yang tahu. Semoga pesan itu sampai bila anda mau lebih dalam meresapi kata.

Iya saya akan menulis lagi.
Sudah mendekati pagi, saya ingin berjalan ke pematang sawah dekat rumah saya untuk menangkap matahari.
Pagi

Salam
-Ebikdei-


No comments:

Post a Comment

Thanks for your comment