Skip to main content

Kepercayaan dan pengharapan bagi etnis Tionghoa

Surabaya, Oktober 2016

Kota Surabaya dengan berbagai etnis yang mendiaminya adalah tempat dimana saya berdomisili saat ini. Selain Kota Solo, Surabaya dan berbagai hal yang berada di dalamnya telah melekat dan mempunyai tempat tersendiri di hati saya.

Tak diragukan lagi, bila etnis Tionghoa menjadi dominan di Kota Pahlawan ini. Hampir sama kasusnya bila dibandingkan dengan Kota Semarang. Bila sebelumnya saya pernah menulis notes facebook  mengenai steriotipe yang saya alami langsung terhadap orang-orang etnis Tionghoa yang saya jumpai di Surabaya, kali ini saya akan menceritakan pengalaman sekaligus kekaguman saya terhadap etnis yang sangat dikenal sebagai pedagang ini. Hehe.
balon udara di Festival Bulan Purnama



Malam itu, tepatnya 15 September 2016, saya diajak teman saya Talita ke Festival Bulan Purnama. Festival ini baru saya dengar pertama kali ini dan tanpa berpikir panjang kami menuju ke Klenteng Sanggar Agung yang berada di Komplek Taman Hiburan Pantai Kenjeran Baru ( Kenpark ). Konon ceritanya, festival ini sering digunakan untuk ajang cari jodoh. Yah meskipun ada atau tidak adanya jodoh yang akan saya temui di Festival tersebut, kami datang ke festival dengan sebuah pengharapan dan kepercayaan. 

Seperti dugaan saya, festival ini memang didatangi mayoritas orang keturunan Cina di Surabaya. Langsung berasa saya berada di Beijing. Haha. Setelah bertanya kepada salah seorang pengunjung apakah boleh seorang muslim masuk ke dalam klenteng, kami pun langsung berpencar mengamati dan memotret berbagai ritual yang dilakukan etnis Tionghoa ini. Banyak orang yang berdoa. Dan tiap-tiap bagian klenteng ternyata memiliki arti dan simbol masing-masing. Ada yang berdoa langsung kepada patung Dewa dan Dewi kepercayaan mereka, ada yang membakar uang simbolis, dan ada yang berdoa langsung menghadap ke laut. Kebetulan klenteng ini memang menghadap ke laut.

Selain melihat aktivitas berdoa, di acara tersebut juga diadakan pergelaran seni seperti tarian Barongsai. Dan puncak acaranya adalah menerbangkan balon udara sebagai simbol harapan bagi warga etnis Tionghoa. Tak mau ketinggalan, saya dan Talita membeli balon udara seharga Rp 15.000,-. Sebelum menerbangkannya, terlebih dahulu kami menulis wishlist kami.

Ebik : Nikah tahun depan dan pergi ke India.

Saya tidak terlalu hapal dengan apa pengharapan Talita saat itu, pada intinya kami menginginkan hal yang sama. Seperti yang selalu kami bicarakan kepada orang lain ( berharap dengan semakin diomongkan dan semakin banyak yang mengamini ). Bahwa kami akan melakukan sebuah " Spiritual journey with no drama " ke India lalu kami akan menikah setelahnya. Meski diaanggap konyol karena banyak orang  yang mempertimbangkan masalah waktu dan status kami saat itu. Tapi yakinlah kalau kata Paulo Coelho , bila kamu benar-benar menginginkan sesuatu dan berupaya atas hal tersebut, semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkan keinginanmu. Dalam islam, kami lebih mengenalnya sebagai Man Jadda Wa Jadda.

Apakah balon udara kami terbang??
Oh tentu saja tidak. hehe. Karena ternyata menerbangkan balon udara itu susah dan saat itu kami kepalang agak malu karena banyak orang yang melihat wishlist kami. 
" Oh jomblo ya? Semoga disegerakan ya. Amin " kata seorang Bapak keturunan Cina.

Entah bagian mana dari mimpi saya yang akan bisa saya wujudkan karena urutan apa yang saya tulis dan omongkan ternyata berbeda. Satu hal yang dapat saya ambil dari balon udara yang diterbangkan dalam festival tersebut, ketika orang-orang dengan semangat menulis mimpi mereka di balon udara. Kemudian dengan jerih payah membuatnya mengembang lalu menerbangkannya sambil berdoa. Indah sekali buat saya pribadi.

Pengalaman kedua saya temui di sebuah taksi dalam perjalanan dari Bandara Juanda kembali ke kost saya di Wonokromo. Kebetulan saat itu saya baru kembali dari Borneo trip saya. Setelah diam sedikit lama , saya pun memilih sebuah taksi Orange. Bukan bluebird atau taksi Juanda dengan tarif yang ditentukan di awal. 

Saat itu Surabaya sedang diguyur hujan, sama dengan Pangkalan Bun yang baru saya tinggalkan. Setelah menelpon mama untuk mengabari bahwa anaknya telah sampai di Surabaya, bapak supir taksi yang keturunan Tionghoa mulai mengajak saya ngobrol. 
" Sudah lama di Surabaya mbak?
" Sudah hampir 4 tahun"
" Pantes kok logatnya udah Surabaya dan apal jalan-jalan tikus"
" Surabaya sudah hujan ya pak?"
" Dari kemarin hujan terus mbak "
" Makanya macet ya tumben masih siang sudah macet. Atau lagi ada acara apa di Surabaya pak?"
" Gak ada acara apa-apa mbak. Mungkin hari ini hari baik. Makanya banyak orang keluar rumah. Banyak orang pergi ke mall buat belanja. "

Tersenyum. Akh bapak keturunan Tionghoa ini sudah berhasil mencuri perhatian saya dengan perkataanya. Satu hal lagi yang saya kagumi dari orang keturunan Tionghoa. Kepercayaannya terhadap berkah. Bapak ini menurut saya tidak melihat sebuah kemacetan dan keruwetan dari sisi negatifnya, tapi mencoba memberikan gambaran positif bagi saya. Benar-benar salah satu pengalaman yang akan saya ingat.

Salam,
Ebikdei

Comments

Popular posts from this blog

Trip 3 Hari 2 Malam di Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP )

Liburan kemana kamu? Ah..itu pertanyan yang hampir semua orang kantor saya tanyakan ketika saya mengajukan cuti selama lima hari.
" Saya mau ke Kalimantan, mau lihat Orang Utan. " " Again? Ke hutan lagi? Kenapa jauh banget?" Well said. Saya belum pernah lho ke luar negeri, dan yang berkata jauh tadi rata-rata sudah pernah liburan ke luar negeri. Praktisnya, selain waktu dan budget yang disiapkan, langkah awal yang harus saya tempuh adalah memilih agen perjalanan untuk Borneo trip saya kali ini. Beruntung, saya mempunyai seorang teman yang berdomisili di Pangkalan Bun , tempat yang saya akan tuju sekaligus sudah pernah ke Taman Nasional Tanjung Puting ( TNTP ). Beberapa kontak agen mulai saya pilah dan pilih dari rekomendasi teman saya tersebut. Pilihan saya jatuh kepada http://beborneotour.com
Trip yang saya pilih adalah sebuah open trip ke TNTP selama 3 hari 2 malam dimulai pada tanggal 21 s/d 23 September 2016. Karena saya hanya mendaftar untuk diri sendiri jadi…

Budaya Ngopi di Gresik

Berbeda dengan kebiasaan masyarakat Jawa Tengah dan Jogjakarta yang lebih gemar ngeteh di wedangan, masyakakat Jawa Timur lebih dikenal dengan kebiasaannya ngopi sembari nyangkruk atau nongkrong di warung kopi.